PENDONGKEL BONSAI YANG BUDIMAN

daniel_Front

Bonsainya lebih dari 1000 batang. Rumahnya di Kudus, Jawa Tengah, sampai tak sanggup menampungnya. Setiap berburu bakalan/bonggol bonsai, ia selalu membawa sekitar 100 batang bibit pohon trembesi untuk di tanam di daerah sasaran.

INI mungkin bisa dikategorikan pemburu bonsai yang budiman. Nama aslinya Daniel Isanto. Tetapi para pemburu dan kolektor bonsai di sekitar kota Kudus –tempat tinggalnya– lebih suka memanggil karyawan PT Djarum Kudus ini dengan sebutan “mBah Kenang”. Ia dihormati sebagai kolektor, pengepul bonggol bonsai, tetapi ia sendiri juga pemburu bonggol bonsai yang handal.

“Karena sehari-hari saya terikat dengan pekerjaan, saya tak bisa jauh-jauh kalau berburu bonsai. Paling ke kota-kota sekitar seperti Lasem, Rembang, Pati, Jepara dan Blora,” kata lelaki yang lebih akrab dipanggil “Mbah Kenank” ini.
Hal yang membuat Daniel beda dari para penggemar maupun pemburu bahan bonsai lainnya, dia juga membibit ribuaan pohon trembesi. Bibit pohon trembesi itu di bawanya saat masuk hutan atau kebon orang di desa-desa, dia tanam sebagai pengganti.

“Saya tidak asal dongkel pohon. Pertama-tama saya izin pada pemilik tanah tempat pohon yang saya incar, kalau boleh saya tawarkan barter dengan pohon trembesi sebagai penggantinya. Kalau belum boleh juga, pohon itu saya beli plus saya ganti dengan bibit pohon trembesi pula,” tekan Daniel.

Kini di rumah Daniel penuh dengan bonsai. Berjejal dari segala ukuran, dari mame sampai extra large. Bahlkan ada yang lingkar batangnya sebesar pelukan orang dewasa. Koleksinya cukup komplet alias berbagai macam spesies, Preh ( silver, panggang ) Beringin, Rempelas, Serut, Gulo Gemantung, Wali Kukun, Gondomono, Kawista Batu, Asem Jawa, Tembelekan, Pushu Bulu, Ki Besi ( yang lagi trend di Kudus dan Jakarta ), Pule, Ipreh, Loa , Sancang , Hokiante, Cemara Udang sampai Santigi.

Daniel  terpaksa menyewa sebidang tanah di pekarangan balai desa Lau –masih di Kudus– untuk bonsai-bonsainya. Pria kelahiran 2 Oktober 1967 ini menggeliat dari kalangan bawah, sampai duduk di bangku SMA masa kecil dan remajanya lebih banyak dihabiskan dengan bekerja sebagai penjaga parker sepeda ontel dan sepeda motor.

“Sebenarnya saya sudah mulai senang bonsai sejak duduk di bangku SMP, tetapi tidak berani memulai karena dihantui ketakutan akan harga mahal bonsai. Baru pada tahun 2008, setelah saya bekerja di PT Djarum, saya berani memulainya,’’ katanya.

Kini Daniel hidup berkecupupan bersama anak istrinya  (Mulyani) dan dua anaknya, Michael Danielle dan Michelle Anabelle. Ia serius menekuni bisnis bonsai, baik sebagai kolektor, penjual, maupun pemburu/pendongkel.  Bonsainya juga mulai masuk kategori 10 besar terbaik dalam setiap mengikuti kontes-kontes bonsai tingkat local dan regional.

Belakangan dia malah mulai menekuni hobi lain, mengumpulkan batu-batu suiseki. Sekarang sudah sekitar 20 buah batu Suiseki dia koleksi. “Kalau berburu bonsai tidak dapat hasil, saya biasanya ganti berburu batu-batu suiseki,” kisah Daniel.

iwan gajah [www.bursabonsai.com]

Bonsainya lebih dari 1000 batang. Rumahnya di Kudus, Jawa Tengah, sampai tak sanggup menampungnya. Setiap berburu bakalan/bonggol bonsai, ia selalu membawa minimal 100 batang bibit pohon trembesi untuk di tanam di daerah sasaran.

INI mungkin bisa dikategorikan pemburu bonsai yang budiman. Nama aslinya Daniel Isanto. Tetapi para pemburu dan kolektor bonsai di sekitar kota Kudus –tempat tinggalnya– lebih suka memanggil karyawan PT Djarum Kudus ini dengan sebutan “mBah Kenang”. Ia dihormati sebagai pengepul bonggol bonsai, tetapi ia sendiri juga pemburu bonggol bonsai yang handal.

“Karena sehari-hari saya terikat dengan pekerjaan, saya tak bisa jauh-jauh kalau berburu bonsai. Paling ke kota-kota sekitar seperti Lasem, Rembang, Pati, Jepara dan Blora,” kata lelaki yang lebih akrab dipanggil “Mbah Kenank”.

Hal yang membuat Daniel beda dari para penggemar maupun pemburu bahan bonsai lainnya, dia juga membibit ribuaan pohon trembesi. Bibit pohon trembesi itu di bawanya saat masuk hutan atau kebon orang di desa-desa, dia tanamnya sebagai pengganti.

“Saya tidak asal dongkel pohon. Pertama-tama saya izin pada pemilik tanah tempat pohon yang saya incar, kalau boleh saya tawarkan pohon trembesi sebagai penggantinya. Kalau belum boleh juga, pohon itu saya beli plus saya ganti dengan bibit pohon trembesi,” tekan Daniel.

Kini di rumah Daniel penuh dengan bonsai. Berjejal dari segala ukuran, dari mame sampai extra large. Bahlkan ada yang lingkar batangnya sebesar pelukan orang dewasa. Koleksinya cukup komplet alias berbagai macam spesies, Preh ( silver, panggang ) Beringin, Rempelas, Serut, Gulo Gemantung, Wali Kukun, Gondomono, Kawista Batu, Asem Jawa, Tembelekan, Pushu Bulu, Ki Besi ( yang lagi trend di Kudus dan Jakarta ) Pule, Ipreh, Loa , Sancang , Hokiante, Cemara Udang sampai Santigi.

Daniel terpaksa menyewa sebidang tanah di pekarangan balai desa Lau –masih di Kudus– untuk bonsai-bonsainya. Pria kelahiran 2 Oktober 1967 ini menggeliat dari kalangan bawah, sampai duduk di bangku SMA masa kecil dan remajanya lebih banyak dihabiskan dengan bekerja sebagai penjaga parker sepeda ontel dan sepeda motor.

“Sebenarnya saya sudah mulai senang bonsai sejak duduk di bangku SMP, tetapi tidak berani memulai karena dihantui ketakutan akan harga mahal bonsai. Baru pada tahun 2008, setelah saya bekerja di Djarum, saya berani memulainya,’’ katanya.

Kini Daniel hidup berkecupupan bersama anak istrinya(Mulyani) dan dua anaknya, Michael Danielle dan Michelle Anabelle. Ia serius menekuni bisnis bonsai, baik sebagai kolektor, penjual, maupun pemburu/pendongkel.Bonsainya juga mulai masuk kategori 10 besar terbaik dalam setiap mengikuti kontes-kontes bonsai tingkat local dan regional.

Belakangan dia malah mulai menekuni hobi lain, mengumpulkan batu-batu suiseki. Sekarang sudah sekitar 20 buah batu Suiseki dia koleksi. “Kalau berburu bonsai tidak dapat hasil, saya biasanya ganti berburu batu-batu suiseki,” kisah Daniel.

6 Comments

  1. arief says:

    pendongkel bahan bonsai udah diliput..sekarang tinggal diliput maestro yg membudidayakan tanaman dan pantang maen dongkelan..itu baru hebat namanya…cinta bonsai cinta kelestarian alam…go green

    • tomo says:

      SETUJU BANGET. HOBY BONSAI ADALAH HOBY YG MULIA. TAPI JADI JAHAT KALO BISANYA HANYA MENDONGKEL DI ALAM. SENIMAN BONSAI SEJATI TIDAK HANYA MENGANDALKAN “BONSAI JADI” DONGKELAN CIPTAAN ALAM. TAPI HARUS BISA BERKREASI SENDIRI DARI BIJI, STEK, CANGKOK DLL…TAPI UTK PENDONGKEL YG SATU INI AGAK LUMAYAN LAH,,,MASIH MAU MENGGANTI DENGAN MENANAM KEMBALI. TAPI TETAP LEBIH OK KALO KARYANYA ASLI BUATAN DARI BIBIT

      • Pusuy says:

        Pernah piara bonsai dari biji mas? berapa lama bisa sebesar bahan bonsai dongkelan? mau nunggu berapa puluh tahun? hahahaha

        sebenernya gak apa2 kita memanfaatkan yang ada di alam tapi harus ada gantinya, jaga juga keseimbangan alam..jangan ambil jenis2 tanaman yang hampir punah, itu baru pebonsai sejati…

  2. habibi says:

    hebat e pk de…susah cari orang kayak pak de….salut teruskan menanam trembesinya pk de…
    aku ikut dukung semangat pk de…cinta bonsai cinta penghijauan….
    aku ikuti jejek pak de nanem trembesi…pk de boleh lihat hasil tanan saya di jalan nasional lingkar nagreg garut bandung

    • tomo says:

      PPBI HARUS PUNYA ATURAN TEGAS. SETIAP PENDONGKEL HARUS MAU MENANAM KEMBALI 10 X LIPAT. HENTIKAN KONTES ATAU LOMBA BONSAI DONGKELAN, YG DILOMBAKAN HARUS BONSAI BUDIDAYA. PPBI HARUS PUNYA ACARA WAJIB TAHUNAN ATAU BULANAN, YAITU ACARA PENGHIJAUAN NASIONAL…

  3. yogesh says:

    Pak mau nanya cara ngidupin bonsai ki besi! Saya dapat bahan hunting tapi kok mati aja ya…terima kasih…kalo Ъќ>:/ keberatan balas ke yogeshwn03@gmail.com terima kasih mas brow

Leave a Reply

Copyright © 2011 bursabonsai.com · All rights reserved